• Jurnalis foto AFP Adek Berry memaparkan bahwa motivasinya menulis bukunya tersebut karena ingin berbagi pengalaman kepada orang lain. "Mungkin pengalaman saya tidak dimiliki orang lain. Itu yang membuat saya ingin sekali membagikannya lewat sebuah buku. Buku adalah keabadian. Apalagi ditulis sumbernya sendiri, sehingga bisa dibilang inilah cerita sebenarnya dari pengalaman selama 20 tahun menjadi jurnalis foto," katanya.
  • Profesinya sebagai jurnalis foto kerap mengantarkannya menghadapi tantangan mulai dari liputan wilayah penuh konflik, bencana alam, hingga liputan seremonial. Ia memburu, mengabarkan, mendokumentasi, mengolah, dan menyiarkan berbagai fakta peristiwa yang terjadi di dalam maupun luar negeri.
  • Ia tangguh saat meliput daerah konflik di Afghanistan, kecelakaan pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Pun tetap berdiri kokoh saat meliput banjir di Pakistan. Dalam buku setebal 392 halaman tersebut, Adek Berry membuktikan bahwa profesi yang umum digeluti kaum adam ini, ternyata mampu dijalankan kaum hawa dengan baik.
30 November 2017 12:40 WIB

'Mata Lensa', 20 Tahun Perjalanan Adek Berry Berkarya

Jakarta: Jurnalis foto di kantor berita kenamaan dunia AFP, Adek Berry meluncurkan buku bertajuk Mata Lensa, Jejak Ketangguhan Seorang Jurnalis Foto Perempuan di Insitut Francais d'Indonesie (IFI) Pusat Kebudayaan Prancis di Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 29 November 2017. Buku tersebut bercerita tentang kisah-kisah unik dan menarik di balik liputan dirinya selama 20 tahun berkarya sebagai seorang jurnalis foto perempuan. MTVN/Wijokongko

RELATED NEWS

SEE THROUGH CAMERA

MORE

OTHER NEWS

SEE THROUGH CAMERA