• Berawal dari keinginan membantu masyarakat Borobudur khususnya Desa Ngargogondo agar mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris, Hani Sutrisno, mantan pedagang asongan Candi Borobudur memberanikan diri membuka kursus bahasa Inggris bagi masyarakat sekitar, karena makin banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung di kawasan Borobudur, yang menuntut penguasaan bahasa Inggris bagi warga sekitar.
  • Desa Bahasa Borobudur ini telah ada sejak 1998. Sempat mati suri beberapa tahun, hingga pada 2011 kembali aktif dengan semangat dan standar baru, bahkan pada 2013 silam, Menteri BUMN Dahlan Iskan mencanangkan Gerakan 'Indonesia Speaks English' dari desa tersebut.
  • Metode-metode pembelajaran khusus yang diterapkan di Desa Bahasa Borobudur membuat belajar berbahasa menjadi lebih gampang dan menyenangkan jauh dari kesan sulit. Dengan teknik 'listening' dan 'drilling' para peserta cukup mendengarkan, menirukan, dan mengucapkan.
  • Meski letaknya di tengah pedesaan, namun antusias peserta baik dari sekitar lokasi maupun luar daerah sangatlah tinggi. Perlu diketahui, dari awal berdiri hingga kini peserta dari tujuh dusun di desa Ngargogondo dibebaskan dari biaya. Maka wajar jika dari awal berdiri hingga sekarang jumlah peserta kursus telah mencapai sekitar 10 ribuan orang.
  • Seperti sebuah ungkapan, bahasa jendela dunia, diharapkan dengan keberadaan Desa Bahasa Borobudur ini mampu membuka jalan¬†menciptakan masyarakat melek bahasa internasional.
12 Desember 2017 11:00 WIB

Membuka Jendela Dunia Lewat Desa Bahasa

Magelang: Desa Bahasa Borobudur, sekilas tampak seperti desa-desa pada umumnya. Namun dari desa inilah para anak muda kampung terbina secara fasih menguasai bahasa Inggris. Tempat berguru bahasa Inggris secara informal tersebut terletak di Dusun Parakan, Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
 ANTARA/Sigid Kurniawan

RELATED NEWS

SEE THROUGH CAMERA

MORE

OTHER NEWS

SEE THROUGH CAMERA