• Pemilik rumah mode Zarif, Zolaykha Sherzad (kanan), menunjukkan tekstil tradisional kepada karyawannya di Kabul, Afghanistan, 25 Februari 2018 lalu. Bahan nilon untuk pembuatan burka asal Tiongkok membanjiri Afghanistan. Karena murah, bahan kain produksi massal yang terjangkau itu diminati.
  • Saat diluncurkan pada 2006, Zarif--artinya berharga dalam bahasa Persia--menggunakan kapas tradisional dan sutra dari penenun artisan. Rumah ini mempekerjakan lebih dari dua lusin orang, umumnya perempuan, untuk menyesuaikan dan merancang kain menjadi pakaian bordir buatan tangan. "Tapi dengan impor lebih murah yang membanjiri pasar, Zarif berjuang untuk mempertahankan metode tradisional lokal," kata sang pendiri, Zolaykha Sherzad.
  • Sejak didirikan, Zarif telah melatih lebih dari 85 wanita. Untuk bertahan hidup, Zarif mengandalkan koneksi di Paris. Perusahaan ini didukung merek fesyen Prancis Agnes B, bersama dengan para pelanggan setia di New York. Sutra tenunan dari kota barat Herat pernah digunakan produsen Afghanistan. Sekarang diekspor ke Iran. "Hanya ada satu seniman yang tersisa di Afghanistan yang tahu kerajinan itu," kata Sherzad.
17 April 2018 12:10 WIB

Adu Talenta dengan Produk Impor

Kabul: Baban baku kain nilon buatan Tiongkok yang murah kini membanjiri pasar Afghanistan sehingga konsumen beralih ke kain produksi massal yang terjangkau. Namun, di Kabul, sebuah rumah mode kecil bertekad berjuang untuk melestarikan tekstil tradisional yang dulu merupakan bagian integral dari budaya Afghanistan. AFP/Wakil Kohsar

RELATED NEWS

SEE THROUGH CAMERA

MORE

OTHER NEWS

SEE THROUGH CAMERA