• Saat musim kemarau tiba, genangan air di Waduk Jatigede menyusut sehingga sejumlah puing bangunan di desa yang tenggelam kembali terlihat muncul ke permukaan. Meski telah terendam air selama tiga tahun, bangunan maupun perabotan di dalamnya masih tampak jelas terlihat.
  • Penyusutan air sejauh 300 meter dari batas air awal di Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja, menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk bermain-main di antara puing-puing bangunan tersebut.
  • Waduk yang surut sejak Maret lalu ini juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mencari ikan dan mengumpulkan puing bangunan yang masih bisa digunakan.
  • Abah Yono, 63, mengaku menjaring ikan setiap hari di genangan waduk untuk disantap bersama keluarganya. Berbeda dengan Abah Yono, Teti lebih memilih mengumpulkan batu bata dari puing bangunan untuk kemudian dipakai membuat pondasi kecil-kecilan di halaman rumahnya.
  • Tidak hanya warga, sejumlah hewan turut merasakan dampak surutnya genangan. Di siang hari yang panas, anjing liar di sisi waduk menenggelamkan diri ke dalam genangan air. Burung kuntul juga beterbangan bebas diantara ranting-ranting yang kering.
  • Kondisi tersebut tak akan berlangsung lama. Penghujung musim kemarau akan menjadi penanda bagi reruntuhan desa tersebut untuk kembali tenggelam seiring datangnya musim hujan.
14 September 2018 09:51 WIB

Munculnya Permukiman yang Hilang di Jatigede

Sumedang: Tiga tahun sudah Waduk Jatigede beroperasi. Waduk yang menenggelamkan 28 desa di empat Kecamatan itu membendung aliran air Sungai Cimanuk di wilayah Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Dengan kapasitas tampung 979,5 juta meter kubik dan luas sekitar 5.000 hektar, waduk ini pun menjadi waduk terbesar kedua di Indonesia. Antara Foto/Fanny Octavianus

RELATED NEWS

SEE THROUGH CAMERA

MORE

OTHER NEWS

SEE THROUGH CAMERA